02 Mar

Ulasan Film “Senyawa”

Film Senyawa

Bagi masyarakat yang bermukim di perkampungan padat penduduk, ketenangan adalah semacam kemewahan yang begitu sulit digapai. Betapa tidak, semenjak roda aktifitas bergulir sesaat setelah Adzan Subuh berkumandang, bunyi-bunyian berasal dari berbagai sumber – bocah-bocah heboh bermain, pertikaian suami istri yang meledak-ledak, lengkingan suara penjaja makanan keliling, kendaraan bermotor berseliweran kesana kemari, hingga sesekali toa masjid mengumandangan Adzan maupun melantunkan ayat-ayat suci – senantiasa menghiasi silih berganti tiada berkesudahan hingga larut malam menjelang… jika cukup beruntung.

Tidak jarang pula walau hari telah begitu gelap, sejumlah pemuda masih asyik nongkrong sekadar untuk bercengkrama seraya menenggak kopi (atau bahkan minuman keras!). Polusi suara yang bercampur mulus bersama polusi udara ini pun telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi mereka yang memilih tinggal di perkampungan padat penduduk. Telah terbiasa di lingkungan semacam ini, penduduk pun Read More

26 Feb

Ulasan Film “Cerita Ivy”

Film Cerita Ivy

Hanya berpatokan pada premis sekaligus judul, penonton akan dengan mudah meremehkan ‘Cerita Ivy’ arahan Rizky Indra Purnama. Kesan pertama yang ditimbulkan oleh film ini adalah usaha lain untuk menjual nasionalisme, patriotisme, atau tindakan-tindakan heroisme yang nantinya berujung pada tatanan kisah bernuansa menceramahi seputar kepedulian terhadap sesama ataupun bela negara. Bukan tanpa alasan pesimisme semacam ini bermunculan mengingat para pembuat film pendek di tanah air kerap kali dihadapkan pada mandegnya gagasan lengkap beserta kekliseannya hanya untuk mengapungkan tatanan kisah yang (maunya) berisi pesan moral, kearifan lokal, atau penabur semangat terhadap generasi muda agar lebih peduli terhadap kondisi Indonesia. ‘Cerita Ivy’ walau tidak betul-betul lepas dari jeratan itu, memiliki gayanya sendiri dalam menghantar penuturannya sehingga penonton yang kadung memandang sebelah mata dibuatnya kecele.

Ya, ‘Cerita Ivy’ memang sebuah film pendek yang diharapkan oleh pembuat filmnya menyampaikan pesan baik bagi masyarakat. Hanya saja, cara tuturnya yang singkat, tepat sasaran tanpa perlu bertele-tele, pula polos yang menjauhkannya dari kesan menggurui membuatnya nikmat untuk disantap. Lagipula, kata kunci yang diberikan di dalam film rupanya menipu seolah mengesankan bahwa film ini akan terjerembab pada nasionalisme semu. Bagaimana bisa tidak berpikiran macam-macam Read More

13 Feb

Ulasan Film “Pilem Pertamaku”

Apakah kamu masih ingat pada film pertama yang ditonton di bioskop entah atas ajakan orang tua atau kemauan sendiri? Bagi penulis, pengalaman sinematik pertama terjadi saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu, keinginan untuk melahap film di layar lebar berasal dari diri sendiri yang memang sedikit banyak telah tumbuh semenjak diperkenalkan oleh orang tua lewat iklan bioskop surat kabar (terdengar aneh, ya?).

Setelah berbulan-bulan merengek berharap memperoleh kesempatan itu – ada beberapa film yang penulis harapkan bisa tonton lantas berlalu begitu saja – akhirnya permintaan pun dikabulkan. Bersama saudara sepupu dan kakak perempuan, penulis diboyong ke salah satu bioskop di kampung halaman (kini telah rata dengan tanah wujudnya!) untuk menyaksikan ‘Batman Forever’ arahan Joel Schumacher. Tidak terlalu ingat siapa yang memilih film, yang jelas saat itu citra Batman di keluarga dianggap sebagai film anak-anak. Hasilnya? Read More

10 Feb

Ulasan Film “Salah Gaul”

Dalam obrolan keseharian di kalangan anak-anak muda, sering kita menjumpai istilah ‘alay’ dilontarkan. Penerapannya pada kalimat umumnya berkisar “gaya kamu itu lho alay banget!”, “jangan seperti anak alay deh!”, “nggak ah, itu kan alay banget!”, dan sebagainya-sebagainya. Seketika menimbulkan kepenasaran, apa sih yang dimaksud dengan alay? Membolak-balikkan Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk menggali informasi definisi paling tepat mengenai istilah ini tentu tidak ada gunanya karena penggunaan kata ‘alay’ sendiri baru berkembang beberapa tahun belakangan ini yang itu Read More

03 Feb

Ulasan Film “Hanacaraka”

Bagi masyarakat Indonesia yang tumbuh berkembang di Jawa tentu tidaklah asing dengan Hanacaraka, tetapi bagi mereka yang hanya sedikit tahu mengenai budaya Jawa mungkin akan bertanya-tanya, apa sih Hanacaraka? Well… secara ringkas, Hanacaraka adalah aksara turunan dari aksara Brahmi yang digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Makassar, bahasa Madura, bahasa Melayu, bahasa Sunda, bahasa Bali, dan bahasa Sasak. Aksara ini memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf utama, 8 pasangan huruf utama, Read More

26 Jan

100 Film Telah Hadir di Kineria

Kineria 1 Tahun

Menjelang satu tahun perayaan berdirinya Kineria, satu hal yang ingin kami haturkan adalah terima kasih. Kendati masih seumur jagung, sebagai situs penyedia layanan menonton film-film pendek garapan sineas Indonesia secara legal, Kineria memperoleh kepercayaan yang sangat besar dari para penggiat film pendek. Betapa tidak, hanya dalam kurun waktu singkat – kurang dari setahun – koleksi film yang bisa diakses oleh para pengunjung setia di situs Kineria Read More

07 Jan

Review : Maling (The Thieves)

Apa yang terlintas di benak Anda tatkala mendengar kata ‘maling’? Seseorang (atau sekelompok orang) yang kejam, perampokan, barang-barang hilang, atau yang lainnya? Yang jelas, apapun itu, erat konotasinya dengan sesuatu yang negatif, buruk, dan mengerikan. Itu tidak salah. Bagaimanapun, maling adalah salah satu ‘pekerjaan’ tak halal yang dilakoni lantaran ingin mendulang harta dalam waktu yang singkat, tanpa perlu mengusap keringat, atau semata-mata tidak ada pilihan lain. Di khasanah film Indonesia, maling identik dengan penjahat sementara lawan si maling adalah lakon (jagoan). Kalaupun ditempatkan sebagai hero, biasanya hanya untuk seru-seruan atau lucu-lucuan semata. Jarang (atau malah tak ada) yang memanusiawikan si maling, seolah-olah tidak ada kebaikan yang dimiliki. Melalui Maling (The Thieves), Ismail Basbeth mencoba untuk membalik konsep yang biasanya Read More

22 Dec

Daftar Pemenang Piala Maya 2014

Piala Maya 2014 Dalam Foto Slideshow

Diawali dengan berbagai kegiatan berbentuk roadshow ke sejumlah universitas serta pemutaran film-film pilihan, Piala Maya 2014 mencapai puncaknya pada 20 Desember silam di Museum Nasional Jakarta. Derasnya hujan yang mengguyur Jakarta petang itu tak menyurutkan semangat para tamu undangan untuk meramaikan pesta kecil-kecilan dalam rangka mengapresiasi perfilman Indonesia ini. Terbukti, perhelatan tahunan yang telah memasuki usia ke-3 ini dihadiri oleh ratusan tamu undangan yang mempertemukan para pekerja film lintas generasi, pemerhati film, jurnalis, sekaligus penikmat film Indonesia.

Ketimbang menciptakan nuansa serba formil, Piala Maya justru membebaskan para tamu undangan untuk bersantai ria selayaknya tengah menghadiri pesta sahabat karib sehingga kemeriahan berbalut keintiman menyeruak terasa. Ada yang baru pertama kali berjumpa, ada yang bereuni dengan sahabat-sahabat lama, dan ada pula yang, yah, bertemu kembali dengan cinta lama. Tiada kecanggungan sedikit pun. Bahkan, Read More